Dua Perkasa Teknologi – Pelaksanaan Salat Idulfitri yang digelar oleh warga Muhammadiyah di berbagai titik di Kota dan Kabupaten Bogor berlangsung dengan khidmat dan tertib. Ribuan jamaah memadati lapangan-lapangan terbuka sejak pagi buta, menciptakan lautan putih yang melambangkan kesucian di hari kemenangan. Namun, di balik kemeriahan ritual tahunan ini, terselip pesan mendalam yang disampaikan oleh para khatib mengenai kondisi geopolitik global dan pentingnya ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan.
Khatib Salat Id Muhammadiyah Di Bogor Ajak Umat Bersatu Singgung Nasib Iran
Dalam khotbahnya di salah satu titik sentral di Bogor, khatib menekankan bahwa Idulfitri bukan sekadar momentum selebrasi setelah sebulan penuh berpuasa. Lebih dari itu, hari raya ini harus dijadikan titik balik bagi umat Islam untuk memperkuat tali persaudaraan atau ukhuwah. Fenomena perbedaan penentuan awal bulan kamariah yang terkadang terjadi di Indonesia seringkali memicu perdebatan di akar rumput. Khatib berpesan agar perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk terpecah belah.
“Persatuan adalah fondasi kekuatan umat. Tanpa persatuan, energi kita akan habis untuk konflik internal yang tidak produktif,” ujar sang khatib di hadapan ribuan jamaah. Beliau mengingatkan bahwa keberagaman dalam ijtihad adalah rahmat, asalkan tetap berpegang pada prinsip saling menghargai. Di Bogor sendiri, toleransi antarwarga sangat terasa, di mana pelaksanaan Salat Id di lapangan terbuka mendapatkan pengamanan dan dukungan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mereka yang merayakan di hari yang berbeda.
Solidaritas Internasional Dan Sorotan Pada Iran
Hal yang menarik dalam khotbah kali ini adalah keberanian khatib untuk menyinggung situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya nasib rakyat Iran. Di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan tersebut, khatib mengajak jamaah untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama muslim di belahan dunia lain. Penekanan ini bukan tanpa alasan; kondisi Iran yang sering kali menjadi pusat pusaran konflik internasional dianggap memerlukan perhatian serius dari sudut pandang kemanusiaan dan solidaritas muslim global.
Khatib menjelaskan bahwa penderitaan akibat sanksi ekonomi, ancaman konflik bersenjata, dan ketidakpastian politik di Iran berdampak langsung pada rakyat sipil yang tidak berdosa. Beliau mengajak umat untuk mendoakan agar kedamaian segera terwujud di tanah Persia tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa ketidakadilan di satu tempat adalah ancaman bagi keadilan di seluruh dunia. Narasi ini bertujuan untuk memperluas cakrawala berpikir umat agar tidak hanya peduli pada isu domestik, tetapi juga peka terhadap isu-isu kemanusiaan universal.
Membangun Kemandirian Dan Kepedulian Sosial
Selain isu persatuan dan kondisi internasional, jamaah juga diajak untuk merefleksikan nilai-nilai kemandirian yang selama ini menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah. Khatib mendorong warga Bogor untuk terus aktif dalam pemberdayaan ekonomi dan sosial. Pasca Ramadhan, semangat berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah harus terus dirawat sebagai instrumen untuk mengentaskan kemiskinan di lingkungan sekitar.
Dengan berakhirnya rangkaian Salat Id, pesan yang dibawa pulang oleh jamaah adalah sebuah tanggung jawab besar: menjadi agen perdamaian. Baik itu perdamaian dalam lingkup kecil di Bogor, maupun peran serta dalam opini global untuk mendukung keadilan bagi bangsa-bangsa yang tertindas seperti di Iran dan Palestina. Hari kemenangan ini menjadi sah ketika umat Islam mampu menyatukan hati dan tangan untuk kemaslahatan bersama tanpa memandang batas negara.

