Duaperkasateknologi.com — Menjelang masa liburan sekolah, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sampang mulai menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan gadget oleh anak-anak. Libur panjang sering kali membuat anak memiliki lebih banyak waktu luang, dan di era digital seperti sekarang, gadget menjadi pilihan utama hiburan mereka. Kondisi ini tidak selalu buruk, namun tanpa pengawasan yang tepat dapat menimbulkan risiko. Kecenderungan anak menghabiskan waktu berjam-jam dengan telepon pintar, tablet, atau perangkat lain membuat pihak pendidikan merasa perlu memberikan perhatian lebih. Menurut berbagai laporan lokal, perilaku ini bahkan meningkat drastis setiap liburan sekolah, sehingga pencegahan yang tepat dinilai sangat penting.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sampang, Mas’udi Hadiwijaya, menyampaikan keprihatinannya terkait meningkatnya risiko digital yang mengintai anak-anak selama mereka tidak berada dalam pengawasan sekolah. Dalam keterangannya pada Rabu (10/12/2025), ia menegaskan perlunya kerja sama yang erat antara orang tua dan lembaga pendidikan. Menurutnya,
“banyak kasus anak terpapar konten negatif karena minim pengawasan selama libur,” tuturnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan betapa seriusnya ancaman konten digital yang tidak layak konsumsi anak. Mas’udi menekankan bahwa lingkungan keluarga memiliki peran besar dalam menuntun anak agar bijak memanfaatkan teknologi, terutama ketika sekolah tidak dapat memberikan kontrol secara langsung.
Konten digital yang tidak pantas, seperti hoaks, tontonan vulgar, kekerasan, hingga permainan daring yang merugikan, dapat memengaruhi perkembangan mental dan emosional anak. Pada masa liburan, anak cenderung mencari hiburan tanpa batas dan lebih mudah terpapar konten-konten tersebut. Dalam beberapa kasus, anak bisa mengalami perubahan perilaku, seperti mudah marah, sulit fokus, atau meniru tindakan yang mereka lihat dari internet. Selain itu, penyebaran informasi palsu atau hoaks dapat membingungkan anak dan membuat mereka sulit membedakan antara fakta dan opini. Ketergantungan pada permainan daring juga menghadirkan risiko kecanduan yang dapat mengganggu jam tidur, pola makan, serta aktivitas sosial mereka.
Mas’udi menilai bahwa orang tualah yang memiliki pengaruh paling besar dalam melindungi anak dari bahaya digital. Di rumah, orang tua harus dapat menjadi pengawas pertama yang memastikan anak mengakses konten sesuai usianya. Ia menyarankan agar orang tua tidak memberikan gadget sebagai satu-satunya bentuk hiburan, melainkan menyeimbangkannya dengan kegiatan lain seperti membaca, membantu pekerjaan rumah, bermain di luar ruangan, atau mengikuti aktivitas kreatif. Selain itu, orang tua juga diharapkan memahami fitur-fitur keamanan digital, seperti mode anak (kids mode), pengaturan waktu layar, dan kontrol orang tua (parental control). Dengan pemahaman ini, risiko paparan konten negatif dapat diminimalkan.
Selain pengawasan, edukasi literasi digital juga menjadi hal yang sangat penting. Anak perlu diberi pemahaman sejak dini tentang bagaimana menggunakan teknologi dengan bijak dan bertanggung jawab. Sekolah dapat mengambil bagian dengan memberikan pembelajaran mengenai etika berinternet, cara mengenali hoaks, serta bahaya interaksi daring dengan orang asing. Sementara itu, orang tua dapat melanjutkan pendidikan ini di rumah dengan berdialog secara terbuka mengenai apa yang anak tonton, mainkan, atau baca di internet. Dengan literasi digital yang baik, anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami risikonya dan menghindari hal-hal yang berbahaya.
Mas’udi menekankan bahwa menjaga keamanan digital anak tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Sekolah memang dapat memberikan arahan, bimbingan, dan pengingat mengenai bahaya dunia maya, namun tanggung jawab terbesar ada pada keluarga. Kolaborasi yang kuat antara guru dan orang tua diperlukan agar anak mendapatkan perlindungan maksimal. Sekolah bisa menyampaikan informasi melalui grup orang tua, seminar kecil, atau modul literasi digital, sementara orang tua memastikan penerapannya di rumah. Dengan sinergi yang baik, ancaman digital selama libur sekolah dapat ditekan, dan anak tetap aman serta produktif meskipun menghabiskan lebih banyak waktu dengan gadget.

