Duaperkasateknologi.com — Penggunaan gadget di kalangan anak terus meningkat seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Perangkat elektronik, seperti ponsel pintar, tablet, dan komputer, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak tidak hanya menggunakan gadget untuk hiburan, tetapi juga sebagai sarana belajar, berkomunikasi, dan mengakses informasi. Meski demikian, pemanfaatan perangkat digital tersebut tetap membutuhkan pengawasan ketat agar berdampak positif bagi tumbuh kembang anak.
Tanpa pendampingan, penggunaan gadget secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Beberapa di antaranya termasuk gangguan interaksi sosial, pola tidur yang tidak teratur, hingga hambatan dalam perkembangan kognitif. Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung lebih sulit berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya atau anggota keluarga. Mereka juga berisiko mengalami kelelahan mental karena terlalu lama menatap layar, yang pada akhirnya dapat memengaruhi prestasi akademik dan kesehatan secara keseluruhan.
Pemerintah menyadari pentingnya literasi digital serta perlindungan teknologi bagi anak. Berbagai regulasi telah dicanangkan untuk membatasi dampak negatif penggunaan gadget, termasuk pembatasan durasi penggunaan, pengawasan konten yang diakses, dan pencegahan akses terhadap materi yang tidak sesuai usia. Upaya ini dilakukan agar anak-anak dapat memanfaatkan teknologi secara aman dan bermanfaat, tanpa kehilangan pengalaman penting dalam kehidupan nyata.
Program pendampingan orang tua juga diperkuat agar keluarga mampu menjadikan gadget sebagai sarana belajar, bukan sekadar hiburan tanpa batas. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kalimantan Timur, M. Faisal, menekankan bahwa pembatasan penggunaan gadget pada anak tidak dapat dilepaskan dari perilaku orang tua sebagai teladan utama. Orang tua memegang peran kunci dalam membentuk kebiasaan digital anak sejak dini.
“Sebelum kita masuk ke anak-anak, saya kira kita mengukur diri kita dulu. Kalau pergi bekerja ketinggalan dompet atau HP, mana yang kita pilih untuk kembali? Pasti HP. Ini menunjukkan bahwa digitalisasi adalah keniscayaan dalam hidup kita,” ujar Faisal.
Pernyataan ini menekankan bahwa anak-anak meniru perilaku orang tua, sehingga penting bagi orang tua untuk menunjukkan contoh penggunaan gadget yang sehat dan terkontrol. Faisal juga menyinggung contoh baik dari keluarga mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yang menerapkan aturan ketat penggunaan HP di dalam rumah. Aturan semacam ini membantu anak memahami batasan waktu layar dan mendorong mereka untuk lebih banyak berinteraksi dengan keluarga. Penerapan aturan tersebut tidak hanya berdampak pada anak, tetapi juga menciptakan budaya digital sehat dalam keluarga secara keseluruhan.
Menurut Faisal, jika orang tua ingin menetapkan jadwal tanpa gadget bagi anak, maka mereka sendiri juga harus mengurangi penggunaan perangkat di waktu yang sama. Meskipun langkah ini terasa sulit di awal, kebiasaan ini sangat penting untuk diterapkan agar anak-anak tidak hanya melihat gadget sebagai kebutuhan utama, tetapi sebagai alat yang dapat digunakan secara bijak. Dengan demikian, anak-anak dapat belajar mengatur waktu, meningkatkan konsentrasi, dan mengembangkan kemampuan sosial.
Data terbaru dari Survei Penetrasi Internet 2025 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan peningkatan signifikan penggunaan internet, termasuk di Kalimantan Timur. Fenomena ini menandakan bahwa akses digital semakin meluas, termasuk bagi anak-anak. Sementara akses ini membawa banyak manfaat, seperti kemudahan belajar dan komunikasi, risiko penyalahgunaan teknologi juga meningkat. Oleh karena itu, pengawasan dari orang tua, guru, dan pemerintah menjadi semakin penting.
Selain itu, literasi digital tidak hanya penting bagi anak-anak, tetapi juga bagi orang tua. Orang tua perlu memahami konten yang layak diakses anak, teknik pengaturan waktu layar, dan cara membimbing anak agar memanfaatkan teknologi secara produktif. Dukungan keluarga, lingkungan sekolah, serta kebijakan pemerintah harus berjalan selaras untuk menciptakan ekosistem digital yang aman dan mendidik bagi generasi muda.
Secara keseluruhan, perkembangan teknologi digital tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya terhadap anak-anak bisa dikendalikan melalui pengawasan, pendidikan, dan contoh yang baik dari orang tua. Penggunaan gadget yang bijak tidak hanya membantu anak belajar, tetapi juga melindungi mereka dari risiko digital yang merugikan. Dengan langkah-langkah ini, anak-anak dapat menikmati manfaat teknologi sekaligus tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan adaptif di era digital.
