Perupa Sampang Terapkan Terapi Seni Atasi Kecanduan Gadget

Perupa Sampang Terapkan Terapi Seni Atasi Kecanduan Gadget

Perupa Sampang Terapkan Terapi Seni Atasi Kecanduan Gadget

Duaperkasateknologi.com — Di tengah era digital yang semakin maju, kecanduan gadget menjadi fenomena yang semakin mengkhawatirkan, terutama di kalangan remaja. Hampir setiap hari, banyak anak muda sulit melepaskan pandangan dari layar smartphone atau tablet mereka. Fenomena ini tak hanya memengaruhi interaksi sosial, tetapi juga kesehatan mental dan kreativitas. Menyadari hal ini, sejumlah perupa di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, mulai menerapkan pendekatan unik untuk menangani masalah tersebut: terapi seni. Terapi seni, atau art therapy, merupakan metode yang memanfaatkan kegiatan kreatif—seperti melukis, menggambar, atau kerajinan tangan sebagai sarana ekspresi emosi dan pemulihan psikologis. Di Sampang, beberapa seniman lokal melihat terapi seni sebagai cara efektif untuk mengalihkan perhatian remaja dari gadget, sekaligus menstimulasi kreativitas mereka. Salah satu perupa yang mempelopori gerakan ini adalah Iwan Maulana, yang sudah lebih dari sepuluh tahun aktif dalam komunitas seni lokal.

Iwan menjelaskan, Anak-anak sekarang terlalu banyak terpapar layar. Mereka jarang mengekspresikan diri secara langsung. Terapi seni memungkinkan mereka menuangkan perasaan, ide, dan stres melalui karya, bukan melalui media sosial. Menurutnya, kegiatan seperti melukis atau membentuk patung dari tanah liat bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk terapi yang menyehatkan. Program terapi seni di Sampang biasanya dilakukan di sanggar atau ruang terbuka komunitas. Setiap sesi berlangsung antara 1 hingga 2 jam, dengan jumlah peserta sekitar 10–15 orang. Para peserta diberi kebebasan untuk memilih media yang mereka sukai, mulai dari cat air, krayon, hingga media daur ulang. Tidak ada penekanan pada hasil akhir yang bagus atau jelek fokus utama adalah proses kreatif dan ekspresi diri.

Salah satu peserta, remaja berusia 15 tahun bernama Rina, mengaku awalnya sulit melepaskan smartphone. Namun, setelah rutin mengikuti sesi terapi seni selama beberapa minggu, ia mulai merasakan perubahan signifikan. Awalnya aku hanya iseng ikut. Tapi saat mulai melukis, rasanya tenang dan senang. Aku jadi nggak terlalu sering main HP, ungkapnya sambil tersenyum. Tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan gadget, terapi seni juga diyakini meningkatkan kemampuan konsentrasi, kreativitas, dan keterampilan sosial. Para peserta diajak untuk berinteraksi, berbagi ide, dan bahkan bekerja sama dalam proyek seni kelompok. Hal ini memungkinkan mereka membangun hubungan sosial yang lebih sehat, yang seringkali terganggu akibat penggunaan gadget yang berlebihan.

Pemerintah daerah dan lembaga pendidikan juga mulai menunjukkan ketertarikan pada metode ini. Beberapa sekolah di Sampang kini menambahkan sesi seni kreatif sebagai bagian dari kurikulum ekstrakurikuler, bekerja sama dengan perupa lokal. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Sampang, program ini dinilai efektif karena mengajarkan siswa untuk mengekspresikan diri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada gadget. Meski demikian, menerapkan terapi seni bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan fasilitas dan bahan seni. Tidak semua sekolah atau komunitas memiliki anggaran untuk membeli cat, kanvas, atau media kreatif lain. Selain itu, masih ada stigma bahwa seni hanyalah hobi atau kegiatan santai, bukan metode serius untuk menangani masalah psikologis seperti kecanduan gadget.

Untuk mengatasi kendala tersebut, perupa Sampang kerap memanfaatkan bahan-bahan lokal atau daur ulang. Misalnya, kertas bekas, botol plastik, dan kain perca bisa diubah menjadi media kreatif yang menarik. Pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mengajarkan peserta untuk berpikir kreatif dengan sumber daya yang terbatas. Selain itu, beberapa perupa juga mengadakan workshop bagi orang tua. Tujuannya adalah agar keluarga turut mendukung proses terapi seni, misalnya dengan menyediakan waktu luang untuk kegiatan kreatif di rumah dan mengatur batasan penggunaan gadget. Dukungan keluarga terbukti penting karena perubahan perilaku anak tidak hanya terjadi di sanggar, tetapi juga di lingkungan rumah.

Para pakar psikologi mendukung inisiatif ini. Dr. Fajar Hidayat, psikolog anak dari Surabaya, mengatakan, Terapi seni merupakan bentuk intervensi nonverbal yang efektif. Anak-anak yang kecanduan gadget seringkali kesulitan mengekspresikan perasaan. Melalui seni, mereka bisa menyalurkan emosi, mengurangi stres, dan meningkatkan kemampuan sosial. Ia menambahkan, terapi seni sebaiknya dikombinasikan dengan pembelajaran digital yang sehat, agar anak tetap bisa memanfaatkan teknologi tanpa terjebak kecanduan. Selain aspek psikologis, terapi seni juga berdampak pada identitas budaya lokal. Banyak perupa Sampang menggabungkan unsur budaya Madura, seperti motif batik, cerita rakyat, dan teknik tradisional dalam kegiatan kreatif. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya belajar mengelola kecanduan gadget, tetapi juga mengenal dan menghargai warisan budaya mereka.

Melihat keberhasilan awal ini, sejumlah komunitas di kabupaten lain mulai meniru pendekatan serupa. Misalnya, di Pamekasan dan Bangkalan, program terapi seni bagi remaja kini tengah dijajaki. Model Sampang dianggap efektif karena fokus pada proses kreatif, keterlibatan keluarga, dan penggunaan media lokal yang terjangkau. Secara keseluruhan, inisiatif perupa Sampang menunjukkan bahwa seni bisa menjadi solusi praktis dan menyenangkan untuk menangani kecanduan gadget. Dengan kombinasi kreativitas, dukungan komunitas, dan kesadaran keluarga, remaja dapat belajar menyeimbangkan kehidupan digital dan dunia nyata. Terapi seni bukan hanya membantu mereka lepas gadget, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, dan kesadaran budaya.

Ke depan, harapan para perupa adalah agar terapi seni menjadi bagian integral dari pendidikan dan program kesejahteraan anak di seluruh Madura. Dengan semakin banyak pihak yang terlibat, mulai dari sekolah, keluarga, hingga pemerintah, diharapkan remaja dapat menikmati manfaat seni sambil tetap bijak dalam menggunakan teknologi. Dengan demikian, apa yang dimulai sebagai upaya sederhana di Sampang kini berpotensi menjadi model nasional dalam mengatasi kecanduan gadget melalui pendekatan kreatif dan budaya. Seni, dalam konteks ini, bukan hanya sarana ekspresi, tetapi juga jalan menuju keseimbangan hidup yang lebih sehat.