Dua Perkasa Teknologi – Dunia internasional kembali dikejutkan oleh pernyataan tajam Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memberikan peringatan keras kepada aliansi NATO. Di tengah ketegangan yang memuncak di Timur Tengah, Trump secara terbuka meminta bantuan militer dari negara-negara anggota NATO dan sekutu global lainnya untuk membuka kembali Selat Hormuz yang saat ini terblokade. Selat ini merupakan urat nadi energi dunia, di mana hampir 20% pasokan minyak global melintas setiap harinya.
Trump Minta Bantuan NATO Untuk Membuka Selat Hormuz
Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times pada pertengahan Maret 2026, Trump memperingatkan bahwa NATO akan menghadapi “masa depan yang sangat buruk” jika para anggotanya menolak membantu AS dalam operasi di Selat Hormuz. Trump menekankan bahwa selama ini Amerika Serikat telah memberikan perlindungan besar kepada negara-negara Eropa, termasuk bantuan masif untuk Ukraina.
Ia berargumen bahwa sekarang adalah saatnya bagi para sekutu untuk membalas budi. “Kita punya sesuatu yang disebut NATO. Selama ini kita sangat baik kepada mereka. Sekarang kita akan lihat apakah mereka mau membantu kita,” tegas Trump. Baginya, keamanan Selat Hormuz bukan hanya tanggung jawab AS, melainkan tanggung jawab negara-negara yang menjadi penerima manfaat utama dari aliran minyak tersebut.
Strategi Koalisi Tujuh Negara
Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah menghubungi sekitar tujuh negara—termasuk Inggris, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan bahkan China—untuk membentuk koalisi maritim. Tujuannya adalah mengirimkan kapal perang dan pembersih ranjau guna memastikan kebebasan navigasi tetap terjaga.
Menariknya, Trump juga menyasar China dengan ancaman diplomatik. Ia menyatakan kemungkinan akan menunda pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping jika Beijing tidak ikut serta dalam upaya pengamanan jalur laut tersebut. Menurut Trump, China adalah salah satu negara yang paling bergantung pada minyak dari Teluk, sehingga mereka seharusnya berada di barisan depan dalam menjaga stabilitas kawasan.
Reaksi Dingin dan Penolakan Para Sekutu
Meskipun tekanan dari Gedung Putih sangat kuat, respon dari para sekutu cenderung berhati-hati, bahkan beberapa secara eksplisit menolak keterlibatan NATO. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan bahwa meskipun Inggris mendukung upaya pembukaan selat secara diplomatis dan kolektif, ia menegaskan bahwa misi tersebut “bukan dan tidak pernah direncanakan sebagai misi NATO.”
Jerman dan Prancis juga menunjukkan skeptisisme yang serupa. Menteri Luar Negeri Jerman menggarisbawahi bahwa mandat NATO adalah pertahanan wilayah anggota, bukan intervensi militer di Teluk Persia. Para pemimpin Eropa khawatir bahwa mengirimkan armada perang ke Selat Hormuz hanya akan memperluas cakupan perang yang sedang berlangsung antara AS-Israel dengan Iran, yang dapat memicu krisis energi yang lebih parah.
Dampak Ekonomi dan Krisis Energi Global
Blokade di Selat Hormuz telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia hingga melampaui USD 100 per barel. Bagi Trump, situasi ini adalah senjata yang digunakan Iran untuk menekan pasar global. Ia bersikeras bahwa AS secara domestik sudah cukup mandiri secara energi, sehingga keterlibatannya di Selat Hormuz sebenarnya lebih demi kepentingan negara-negara pengimpor minyak di Asia dan Eropa.
“Saya menuntut negara-negara ini datang dan melindungi wilayah mereka sendiri, karena itu adalah kepentingan mereka,” ujar Trump saat berbicara kepada media di atas pesawat Air Force One. Ia juga berjanji bahwa AS akan “selalu mengingat” siapa saja sekutu yang berdiri bersama mereka dan siapa yang memilih untuk tetap diam dalam krisis ini.

